Valgor menghantam tanah dengan cakar besar, menciptakan gelombang debu yang menutupi penglihatannya sejenak. Lynx menggunakan kesempatan itu untuk mundur, memperhatikan lawannya dengan cermat.

Di sela-sela debu, suara Valgor terdengar lagi. "Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku? Aku adalah algojo Monrest! Aku tidak akan kalah dari bocah seperti kau!"

Valgor mulai menyerang lagi, menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan apa saja di sekitarnya. Lynx tetap menghindar, meskipun dia tahu dia tidak bisa terus bertahan seperti ini selamanya.

"Kau pasti lelah sekarang, Lynx," ejek Valgor, suaranya penuh kebencian. "Tapi aku bisa melakukan ini sepanjang hari."

Lynx tersenyum kecil, meskipun napasnya mulai berat. "Kau seharusnya tahu, Valgor. Aku tidak akan semudah itu kehabisan tenaga."

Dengan satu gerakan cepat, Lynx melompat ke atas, menghindari pukulan Valgor yang menghantam tanah. Dia mendarat dengan mulus beberapa meter jauhnya, lalu melompat dengan kecepatan tinggi, mengarahkan tendangan ke dada Valgor.

"Uhk...", Valgor terkena tendangan dengan tepat di dadanya. Tendangan Lynx yang keras dan kuat mampu menembus kulitnya yang keras, sehingga membuat dia semakin marah.

Lynx bersiap kembali, namun, dia tahu bahwa waktunya hampir habis. Orang-orang Raksa perlu keluar dari tempat ini segera sebelum energi yang ada ditubuhnya habis.

Di tengah arena yang porak-poranda, Valgor yang marah mencengkeram seorang wanita dari kerumunan didekatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dengan satu tangan.

"Jangan!" teriak Lynx, melangkah maju. Tapi jarak antara mereka terlalu jauh, dan sebelum Lynx bisa berbuat apa-apa, Valgor menghancurkan tubuh wanita itu dengan satu hentakan brutal.

"Ini kekuatanku!" Valgor meraung, darah korban menetes dari tangannya. Ia menelan darah itu bersama batu kecil bercahaya yang disembunyikan di tangan satunya. Batu kedua yang ditelannya membuat tubuhnya menggeliat, memanjang, dan semakin besar, otot-ototnya tampak menggembung seperti hendak meledak.

Valgor berdiri tegak dengan tubuhnya yang semakin mengerikan. Sisik hitamnya tampak lebih tajam dan keras setelah menelan batu kedua. Matanya bersinar merah seperti bara, dan setiap langkahnya menghancurkan tanah di bawahnya.

Lynx mengepalkan tangan, napasnya berat. "Aku harus menghentikannya sekarang juga."

Di tepi arena, warga Raksa menjerit ketakutan. Anak-anak menangis, para wanita mencoba melindungi mereka, sementara beberapa pria dewasa memandang dengan panik, tidak tahu harus berbuat apa.

"Lynx!" teriak Rira, wajahnya penuh kecemasan. "Kau tidak bisa terus bertahan seperti ini!"

Narendra menggertakkan giginya, memegang tombak erat-erat. "Apa yang harus kita lakukan? Valgor terlalu kuat!"

Valgor kembali melompat menyerang Lynx, namun kali ini kecepatan dan kekuatan Valgor tidak mampu di hadapi Lynx. Energinya mulai berkurang drastis dan dia perlu waktu untuk pulih. Serangan-serangan Valgor mengenai Lynx dengan telak. Luka-luka mulai bermunculan di tubuh Lynx.

Ratap tangis terdengar dari kerumunan. Suku Raksa yang melihatnya menangis sedih, melihat Lynx yang di serang habis-habisan oleh Valgor tanpa bisa melawan. Lynx terlihat bertahan dan berusaha menangkis serangan yang ada, namun kekuatan Valgor jauh melebihi kekuatan dia sebelumnya setelah menelan batu yang kedua.

Sementara itu, Valgor menatap Lynx yang berusaha berdiri dengan senyum bengis. "Mana pukulan panasmu itu, Lynx? Mana kekuatan mataharimu yang terkenal itu? Kau hanya omong kosong! Tidak ada apa-apanya!"

Lynx berdiri di tengah debu yang beterbangan, tubuhnya penuh luka. Serangan bertubi-tubi Valgor sebelumnya membuatnya sulit untuk bertahan. Tulang di dadanya terasa ngilu, dan salah satu lengannya mulai mati rasa. Tapi dia tidak menunjukkan kelemahan.

"Tenang..." gumam Lynx pada dirinya sendiri, berusaha meredam rasa sakit. Ia menatap langit. Matahari perlahan mulai turun ke ufuk barat, tapi cahayanya masih cukup kuat. Lynx merentangkan tangannya ke samping, membiarkan kulitnya yang terluka menyerap energi matahari.

Valgor tertawa keras melihat itu. "Apa yang kau lakukan? Berdoa? Menyerah? Kau benar-benar menyedihkan!"

Di sisi arena, Rira berbisik dengan putus asa kepada Narendra. "Apa yang dia lakukan?"

Narendra menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Tapi jika ada yang bisa menghentikan Valgor, itu hanya Lynx."

Kanha, meskipun wajahnya penuh keringat, menatap Lynx dengan keyakinan penuh. "Kak Lynx akan menang. Aku yakin dia akan menang!"

Lynx perlahan mengangkat tangannya, energi dari matahari terlihat seperti mengalir ke tubuhnya. Parang bercahaya miliknya diselipkan kembali di pinggang, meninggalkan tangannya kosong. Tapi tangannya mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang hangat.

Valgor menyipitkan mata, bingung. Tapi segera ia tertawa lebih keras. "Kau pikir cahaya kecil itu akan menyakitiku? Aku lebih kuat daripada sebelumnya, Lynx! Kau hanyalah pecundang!"

Lynx tidak menanggapi. Dia memusatkan seluruh energinya pada tangan kanannya, merasakan panas yang semakin intens berkumpul di sana.

"Ini untuk semua yang telah kau sakiti," gumam Lynx, suaranya nyaris tak terdengar.

Dia bergerak maju dengan kecepatan luar biasa, menciptakan pusaran angin yang membuat Valgor mundur setengah langkah. Valgor mengayunkan cakar besar ke arahnya, tapi Lynx melompat tinggi, meluncur di udara seperti meteor.

"Ini kekuatanku," kata Lynx dengan suara dingin, saat cahaya di tangannya meledak menjadi nyala api terang. "Pukulan Matahari!"

Valgor mencoba menghindar, tapi tubuh besarnya terlalu lambat dibandingkan kecepatan Lynx. Pukulan itu menghantam tepat di dadanya. Sebuah ledakan besar mengguncang arena, membuat semua orang terjatuh. Tubuh Valgor terpental ke belakang, sisik-sisiknya terbakar dan terkelupas.

"Tidak!" raung Valgor, matanya melebar saat api panas melahap tubuhnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya meledak menjadi serpihan yang tersebar di tanah.

Keheningan menyelimuti arena. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara. Semua mata tertuju pada Lynx yang berdiri dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya bersinar keemasan untuk beberapa detik sebelum kembali normal.

Rira menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir. "Dia... dia melakukannya."

Narendra tersenyum lemah. "Aku tidak percaya. Dia benar-benar mengalahkan monster itu."

Di sisi lain arena, prajurit Monrest yang menyaksikan kekalahan Valgor mulai bergerak panik. Mereka kehilangan pemimpin dan mulai berbisik satu sama lain, bingung harus berbuat apa.

Lynx, yang masih berdiri di tengah arena, mengangkat tangannya. "Sekarang! Serang mereka!"

Jeritan Lynx membangunkan semangat suku Raksa yang sebelumnya terpaku dalam ketakutan. Dengan senjata seadanya, mereka mulai menyerang titik lemah barisan musuh yang menutupi terowongan rahasia.

Karsan, yang memimpin kelompok wanita dan anak-anak, berteriak, "Cepat, masuk ke terowongan!"

Musuh, yang terkejut dan kehilangan kendali, mulai mundur satu per satu. Mereka tidak siap menghadapi serangan balasan mendadak, terutama tanpa Valgor.

Arkha, yang memimpin serangan utama, berteriak dengan suara menggelegar, "Ini kesempatan kita! Jangan biarkan mereka kembali mengatur formasi!"

Dalam kekacauan itu, Lynx mulai terhuyung-huyung. Kelelahan dan luka-luka di tubuhnya akhirnya memengaruhinya. Arkha berlari mendekat, menahan tubuh Lynx yang hampir jatuh.

"Kau sudah melakukan cukup, Lynx," kata Arkha sambil memapahnya. "Sekarang giliran kami."

Lynx tersenyum lemah. "Jangan berhenti sampai semuanya keluar."

Arkha mengangguk, membawa Lynx keluar dari arena sambil memberi aba-aba kepada yang lain untuk melanjutkan serangan.

Dengan kepemimpinan Arkha dan keberanian warga Raksa, kepungan Monrest akhirnya pecah. Para prajurit Monrest melarikan diri ke hutan, meninggalkan senjata mereka. Suku Raksa berhasil meloloskan diri melalui terowongan rahasia, membawa harapan baru untuk masa depan mereka.

Di luar terowongan, para prajurit Monrest yang tersisa terlihat bingung dan panik. Mereka kehilangan Valgor, pemimpin mereka yang paling kuat, dan saat ini hanya dipimpin oleh seorang wakil yang tampak cemas.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka kabur!" raung wakil pimpinan itu. "Kita akan dihukum kepala suku jika sampai gagal membasmi mereka! Kita harus menyerbu terowongan sekarang!"

Beberapa prajurit Monrest ragu. "Tapi, tuan, mereka mungkin sudah memasang jebakan di dalamnya. Dan tanpa Valgor…"

"Diam!" teriak wakil pimpinan itu, menatap bawahannya dengan mata penuh amarah. "Kita tidak punya pilihan. Masuk sekarang juga!"

Dengan teriakan penuh semangat yang dipaksakan, para prajurit Monrest mulai menyerbu masuk ke terowongan. Namun, mereka segera menghadapi kegelapan yang pekat. Tidak ada cahaya selain obor kecil yang mereka bawa. Lorong-lorong bercabang mulai membuat mereka kebingungan.

"Ke arah mana mereka pergi?" tanya salah satu prajurit, napasnya terdengar gugup.

"Lihat jejak kaki!" perintah wakil pimpinan. Namun, jejak itu segera menghilang di tanah berbatu yang sulit dilacak.

Sementara itu, jauh di depan mereka, suku Raksa bergerak cepat melalui terowongan dengan bantuan Arkha dan Narendra yang memimpin di depan. Lynx, yang masih terlihat lemah, dipapah oleh Rira dan Kanha.

"Kita hampir sampai," kata Arkha dengan suara tenang namun tegas. "Jangan berhenti. Terus maju."

Rira menoleh ke belakang, melihat bayangan samar dari obor-obor prajurit Monrest yang mulai memasuki terowongan. "Mereka mengejar," bisiknya dengan cemas.

Narendra, yang berjalan di samping Arkha, berbicara dengan cepat. "Kita harus mengaburkan jejak kita. Jika tidak, mereka akan menyusul kita."

"Tenang saja, kami punya rencana," ujar seorang pria tua, salah satu panitia pertandingan. "Ada jalan buntu di ujung terowongan ini. Kita sudah membuat jalan tersembunyi di sebelum ujung terowongan yang bisa kita tutup. Mereka tidak akan bisa menemukannya."

"Cepat! Mereka semakin dekat!" teriak seorang wanita sambil membawa anak kecil di pelukannya.

Setelah beberapa menit berjalan dalam keheningan tegang, mereka akhirnya tiba di jalan rahasia yang dimaksudkan. Beberapa pria Raksa segera bekerja sama untuk mendorong batu menutup jalan setelah mereka lewat.

Dengan dorongan terakhir, batu besar itu menutup jalan dengan bunyi gemuruh. Suku Raksa menghela napas lega, tapi mereka tahu ini hanya sementara.

"Kemana kita pergi sekarang?" tanya Arkha, "Kita butuh tempat untuk berlindung." Katanya dengan tegas.

"Jangan khawatir, dari sini kita akan pergi ke perkampungan. Ada perkampungan kecil di lembah dekat sini dari pecahan suku Raksa." Kata Karsan.

"Baguslah. Lynx perlu segera diobati. Luka-luka dibadannya sangat parah." Kata Rira dengan khawatir.

"Ayo bergerak, kita harus segera sampai tujuan," ujar Arkha.

Mereka bergerak menyusuri hutan, jauh dari terowongan, menuju lembah yang disebutkan Karsan. Perjalanan itu sulit dan berat, terutama bagi mereka yang terluka dan kelelahan. Tapi akhirnya, menjelang fajar, mereka tiba di sebuah perkampungan kecil.



